Jumat, 08 Oktober 2010

Jadi tukang ojek…kenapa harus malu?


Saya jadi teringat pernyataan dari mas penjual bakso…”masalah orang Manado dalam hal pekerjaan kalau gak malas pasti gengsi”…saya langsung termenung dan mencerna pernyataan itu…”tapikan gak semua orang manado malas dan gengsi?” bantahku dalam batin…mas hanya menggeneralisir suatu kondisi yang terjadi…tapi setelah di renungkan dalam-dalam ternyata pernyataan itu ada benarnya juga, karena banyak orang luar yang mencari nafkah di kota Manado (tukang bakso, sol sepatu, pedagang asongan dll), rata-rata penjual bakso di panggil mas (walaupun tidak semua berasal dari jowo) dan coba deh kalau anda mampir di pasar bersehati pasti anda akan mendengar dan merasakan atmosfir logat suatu daerah tertentu (gorontalo) hehe “saplima rica” …terus orang manadonya di mana? Males atau gengsi bekerja seperti itu? Hahai tidak perlu di jawab…

Beranjak dari pernyataan itulah kemudian saya menjadi tukang ojek, rasa gengsi khas anak manado saya buang jauh-jauh…bisa dikatakan sekedar memanfaatkan fasilitas yang ada (walaupun motor milik sebe) ditamba hobi saya jalan-jalan memantapkan saya jadi tukang ojek dan saya merasa tidak terbebani sama sekali…

Tetapi profesi tukang ojek selalu dipandang sebelah mata terutama oleh teman-teman saya, mereka sering menyebutku SO alias Sarjana Ojek, ada juga SH alias Sarjana Harian dan kata-kata itu selalu diiringi dengan tawa yang menghina!!

Apakah serendah itu tukang ojek?!

Sehina itukah, sehingga patut untuk ditertawai?!

Tidak sama sekali kawan!!! Tukang ojek lebih mulia daripada pejabat yang korup…tukang ojek lebih bermartabat dari seorang pelacur dan tukang minta-minta!! Selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain, lakukanlah!! Lagian saya tidak hidup dari perkataan orang lain, terserah apa pendapat kalian tentang tukang ojek…

Hari demi hari pekerjaan “jasa antar” saya lakoni dan pada fase seperti inilah saya mendapat suatu gelombang empati luar biasa terhadap penderitaan dan kehidupan orang lain (para tukang ojek), dan bisa dikatakan inilah subtansi dari tulisan ini,,,sebenarnya pekerjaan ngojek yang saya lakukan hanya sekedar kesenangan bukan profesi karena uang hasil dari ngojek saya gunakan hanya untuk berfoya-foya, jalan sama teman, beli rokok, untuk jajan, pokoknya untuk heppylah…tapi berbeda dengan para tukang ojek lainnya dimana pekerjaan itu telah mendarah daging sejak dahulu dan memposisikan ojek sebagai profesi mereka…mereka menyambung hidup, menafkahkan keluarga, menyekolahkan anak mereka hanya dengan mengandalkan hasil dari ngojek…jika dibayangkan saya hanya bisa menghela nafas…penghasilan tidak menentu, musim hujan, hari libur bagaikan bencana bagi para tukang ojek apalagi faktor keamanannya…pasti kalian sering menangis atas hal itu, hanya tukang ojek yang bisa merasakan penderitaan tukang ojek. Tapi jangan berkecil hati kawan!!! Sekeras apapun profesi tukang ojek, derajat dan martabatnya setara dengan profesi lainnya karna ada tukang ojek yang bertitel Sarjana Hukum…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar