Minggu, 10 Oktober 2010

Saya Hampir Tidak Lulus Ujian Kompre…


Ujian Kompherensif merupakan ujian untuk mengakhiri studi di suatu fakultas bisa dikatakan ujian akhir untuk mendapatkan gelar sarjana…Ujian kompre sangat dinanti oleh para mahasiswa tapi juga merupakan ujian yang paling ditakutkan, bagaimana tidak, peserta ujian diposisikan dalam suatu ruangan yang tertutup, duduk di tengah ruangan dan para dosen (penguji) seakan melingkarinya kemudian akan mengkuliti otak para peserta ujian dengan berbagai macam pertanyaan dalam berbagai bidang hukum…”dusta, kalau para peserta ujian mengatakan tidak gugup…” kalau soal gugup sih itu manusiawi tapi soal ongkos ujiannya itu yang biadab! Antara illegal dan legal…kalau yang berduit sih “no problem” tapi kami…kami yang hidup di keluarga yang paspasan, kami yang status ekonominya jongkok…”huh pake istilah antar undangan segala leh” (amplop), saya pernah mengkonfirmasikan soal ini kepada salah satu dosen yang memiliki jabatan di fakultas, katanya “antar undangan itu sifatnya resmi” hmm resmi? Resmi kok harganya gak di tentukan alias terserah mau kasih berapa? Resmi kok dilakukan secara terselubung? Kenapa gak di bayar saja ke bank seperti halnya membayar SPP? Anak SD saja sudah tau kalau indikasinya kearah pungli…tapi sayang saya hanyalah mahasiswa biasa dan tidak punya bukti nyata untuk melebel terjadinya pungli…”pasrah aja deh” dengan terpaksa harus mengikuti cara mainnya…saya tidak tahu papa saya dapat uangnya dari mana “hanya ini yang papa mampu” sambil menyerahkan uangnya,,, saya tidak berani menatap raut wajahnya saat ku ambil uangnya,karena saya tidak ingin melihat air mata mengalir di wajahnya …

Dengan uang seadanya saya mengantarkan undangan kepada seluruh penguji, dan pagi itupun tiba…

Saya masing ingat jelas situasi pada pagi hari itu, situasinya sangat mencekam, menakutkan, ngeri (lebai) untuk menghilangkan nerves saya mengalihkan perhatian pada teman-teman (perserta ujian lainnya) yang sedang berfoto ria, dengan stelan kemeja putih, jas hitam dan vantofel mengkilap dengan gagahnya mereka berpose,,sebenarnya sih saya mau ikut berfoto tapi jas dan celana panjang saya kedodoran maklum hasil pinjaman,(theks neh allen punu hehe)…

Setelah beberapa temanku akhirnya tibalah giliranku untuk memasuki ruangan ujian, bagaikan seorang terdakwa yang harus menjawab pertanyaan dari hakim itulah situasinya…pertanyaan penguji pertama dan kedua saya jawab dengan mantap, tapi penguji ketiaga…sial!!! “pada waktu membawa undangan penguji tersebut telah memberiku kisi-kisi mengenai HI tapi kenapa yang ditanya mengenai hukum waris?” akhirnya dengan cara spekolasi saya menjawabnya…kemudian penguji berikutnya adalah penguji yang paling ditakutkan dialah sang pimpinan fakultas alias Dekan, dia menyerangku dengan enam pertanyaan empat diantaranya saya bisa menjawab tapi kurang memuaskan menurut si penguji dan dua pertanyaan berikut saya tidak mampu untuk menjawab dan hanya bisa terpaku membisu...pertanyaannya saya masih ingat sampai sekarang “bagaimana kloning itu ditinjau dari moral dan etika?” sungguh pertanyaan diluar jangkauanku…।saya ingin menanyakan kembali mengenai pertanyaan itu “apakah kloning untuk hewan? Atau manusia?” setahuku hanya hewan yang pernah diuji coba Kloning, tapi saya kehabisan nyali untuk mengatakannya…karna hanya bisa “ternganga” dan jawabanku kurang memuaskan, si Dekan mengatakan “Saudara keluar, ambil buku dan belajar kembali” hah belajar kembali?! Sungguh mengagetkan, dengan spontan dan setengah sadar saya mengatakan “Bu satu pertanyaan lagi?” karna ingin menunjukkan bahwa saya benar-benar telah belajar dan sekaligus ingin mengkritik kepada si penguji karna pertanyaannya sangat banyak (standartnya 3 pertanyaan) dan dengan superior yang Dekan miliki, dia mengatakan “Kamu mau coba mengatur saya?” dengan tergopoh-gopoh sayapun keluar dari ruangan…saya langsung terbayang wajah kedua orang tuaku, takut akan mengecewakan mereka…seakan ruangan itu telah mengikis keceriaanku yang membuatku tak berkutik…

Setelah itu seluruh peserta ujian masuk dalam ruangan untuk mendengar hasil keputusan kelulusan (yudisium) teman-temanku dinyatakan lulus dengan membanggakan tentunya dengan kata “selamat” dari sang Dekan…tapi giliran sang Dekan membacakan keputusan kelulusan terhadap saya, dia mengatakan “Sangat disayangkan,,,saudara Arrahyan Kadir dinyatakan…hampir tidak lulus” tertunduk dan terpaku haya itu yang bisa saya lakukan dengan berpikir pendek saya memvonis diriku sebagai seorang mahasiswa yang paling bodoh diantara teman-teman seangkatanku…kata “hampir” itu membuatku malu pada teman-temanku…tapi saya tetap bersyukur pasalnya pada detik itu saya telah memiliki gelar SH di belakang nama saya walaupun dengan predikat “hampir tidak lulus”,,,dan dengan kejadian itu membuat saya terus belajar sampai sekarang ini…

Setelah dianalisa dan dikaji secara mendalam ada bebrapa faktor yang saya temukan mengapa saya hampir tidak lulus,yakni:
  1. Saya menderita phobia dunia pendidikan…takut akan suasana yang bersifat formal/resmi, ini bermula pada saat saya masih sekolah, saya takut sekali terhadap guru-guru yang killer, pernah kejadian saya dipukuli oleh guru SMP, padahal saya tidak melakukan kesalahan (aneh) dan itu berefek pada mental saya…pada ujian kompre itulah mental penakut dan gugup saya gunakan…jangankan pengertian hukum nama sendiripun akan lupa apabila dalam keadaan gugup, hehe itu dulu “klo skarang, coba jo tes?”
  2. Pengaruh “ombong” alias amplop…rumusnya sederhana kok: “tebalnya isi amplop=mudah dan sedikitnya pertanyaan” sebaliknya “tipisnya isi amplop=sukar dan banyaknya pertanyaan”
  3. Otak kiri saya terbatas…dalam ujian kompre yang diuji adalah seluruh bidang hukum (perdata, pidana, HTN dan HI) dan juga seluruh Mata Kuliah dari semester 1 sampai semester 8, secara rasional dalam kurun waktu 3 setengah tahun mahasisiwa tidak mampu menguasai seluruh mata kuliah…kalau ada yang mampu menguasainya,boleh hadapkan pada saya hehe,,,
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengundang simpati ataupun belas kasihan dari para pembaca tapi saya hanya sekedar mengekspresikan pengalaman saya pada suatu tulisan dan juga sekedar memberi jawaban terhadap pertanyaan teman saya “mengapa kamu hampir tidak lulus? Dan apa sebenarnya yang terjadi?”…tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengotori bekas “almamater” saya , karna saya yakin almamaternya tidak salah hanya orang-orang yang “menggunakan almamaternya” itu yang mentalnya pengemis…kalau saya mengkritik itu sah-sah saja karna saya sangat merindukan perubahan di almamater bekas saya menimba ilmu, tapi kalau saya dituding mencemarkan nama baik almamater saya…saya tidak akan terima karena unsur pasal 27 ayat 3 UU No। 11 Tahun 2008 mengenai ITE tidak Nampak pada tulisan ini…

Buat teman seangkatanku apabila kalian menjadi Dosen, Pengacara, Jaksa, Hakim, Polisi,,jalanilah profesi kalian dengan dilandaskan pada iman dan moral karna zaman sekarang uang adalah salah satu alat penggoda yang mujarab…”pantas gak yah,tukang ojek memberikan nesehat hehe”

“duh bingung mau akhiri tulisan dengan kalimat apa,,,yah maklum penulis pemula” tapi OKlah saya akhiri tulisan ini dengan suatu Adigium yang sudah tidak asing lagi,,,”nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali”

Jumat, 08 Oktober 2010

Jadi tukang ojek…kenapa harus malu?


Saya jadi teringat pernyataan dari mas penjual bakso…”masalah orang Manado dalam hal pekerjaan kalau gak malas pasti gengsi”…saya langsung termenung dan mencerna pernyataan itu…”tapikan gak semua orang manado malas dan gengsi?” bantahku dalam batin…mas hanya menggeneralisir suatu kondisi yang terjadi…tapi setelah di renungkan dalam-dalam ternyata pernyataan itu ada benarnya juga, karena banyak orang luar yang mencari nafkah di kota Manado (tukang bakso, sol sepatu, pedagang asongan dll), rata-rata penjual bakso di panggil mas (walaupun tidak semua berasal dari jowo) dan coba deh kalau anda mampir di pasar bersehati pasti anda akan mendengar dan merasakan atmosfir logat suatu daerah tertentu (gorontalo) hehe “saplima rica” …terus orang manadonya di mana? Males atau gengsi bekerja seperti itu? Hahai tidak perlu di jawab…

Beranjak dari pernyataan itulah kemudian saya menjadi tukang ojek, rasa gengsi khas anak manado saya buang jauh-jauh…bisa dikatakan sekedar memanfaatkan fasilitas yang ada (walaupun motor milik sebe) ditamba hobi saya jalan-jalan memantapkan saya jadi tukang ojek dan saya merasa tidak terbebani sama sekali…

Tetapi profesi tukang ojek selalu dipandang sebelah mata terutama oleh teman-teman saya, mereka sering menyebutku SO alias Sarjana Ojek, ada juga SH alias Sarjana Harian dan kata-kata itu selalu diiringi dengan tawa yang menghina!!

Apakah serendah itu tukang ojek?!

Sehina itukah, sehingga patut untuk ditertawai?!

Tidak sama sekali kawan!!! Tukang ojek lebih mulia daripada pejabat yang korup…tukang ojek lebih bermartabat dari seorang pelacur dan tukang minta-minta!! Selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain, lakukanlah!! Lagian saya tidak hidup dari perkataan orang lain, terserah apa pendapat kalian tentang tukang ojek…

Hari demi hari pekerjaan “jasa antar” saya lakoni dan pada fase seperti inilah saya mendapat suatu gelombang empati luar biasa terhadap penderitaan dan kehidupan orang lain (para tukang ojek), dan bisa dikatakan inilah subtansi dari tulisan ini,,,sebenarnya pekerjaan ngojek yang saya lakukan hanya sekedar kesenangan bukan profesi karena uang hasil dari ngojek saya gunakan hanya untuk berfoya-foya, jalan sama teman, beli rokok, untuk jajan, pokoknya untuk heppylah…tapi berbeda dengan para tukang ojek lainnya dimana pekerjaan itu telah mendarah daging sejak dahulu dan memposisikan ojek sebagai profesi mereka…mereka menyambung hidup, menafkahkan keluarga, menyekolahkan anak mereka hanya dengan mengandalkan hasil dari ngojek…jika dibayangkan saya hanya bisa menghela nafas…penghasilan tidak menentu, musim hujan, hari libur bagaikan bencana bagi para tukang ojek apalagi faktor keamanannya…pasti kalian sering menangis atas hal itu, hanya tukang ojek yang bisa merasakan penderitaan tukang ojek. Tapi jangan berkecil hati kawan!!! Sekeras apapun profesi tukang ojek, derajat dan martabatnya setara dengan profesi lainnya karna ada tukang ojek yang bertitel Sarjana Hukum…

PERKATAANMU CERMINAN KEPRIBADIANMU

Komunikasi merupan suatu hal yang penting dalam kehidupann manusia, dimana dengan komunikasi kita bisa menjalin hubungan yang baik, menumbuhkan keakraban baik bahkan mampu menyelesaikan masalah, baik dengan orang tua, saudara kita, teman, sekaligus “musuh kita”…tapi dengan komunikasi bisa membuat suasana berbalik menjadi suatu yang negative,,mengapa?? Komunikasi yang tidak baik, dan yang tidak patut membuat arti komuniksi tercemar,,kadang orang mengeluarkan kata-kata yang tanpa sadar telah melukai perasaan lawan bicara, ada juga orang yang di setiap pembicaraannya dan kalimatnya selalu terselip dan diakhirir dengan kata-kata yang tidak patut dan mengandung unsure makian,misalnya “kuda bendi”,” pe mama”, segala macam hewan yang ada di kebun “binatang” ,”setan” yang berada di neraka, dan jenis-jenis alat reproduksi manusia, sungguh sangat di sesalkan..ucapannya kadang di sengaja dan juga kadang tanpa disadari yang telah menjadi suatu kebisasaan dan dinilai oleh sebagian orang merupakan suatu yang lazim tapi sebagian orang juga memposisikan kedudukan orang yang berkata kotor dalm derajat yang paling rendah..
Saya teringat pada waktu masih duduk di bangku SMK, dimana pada masa itu bisa dikatakan masi terjebak dalam “lembah kegelapan” , ucapan saya sangat tidak terkontrol sesering ucapan makian yang tak disadari keluar dari mulut tak berdosa ini,,pada suatu waktu kata-kata yang tidak terdidik itu terdengar oleh guru olahraga saya dan sayapun diadili di ruang guru yang membuat diriku terpojokkan, penyesalan yang luar biasa keluar dari ekspresi wajah saya, merasakan rendahnya diri saya. dan membuat saya geram pada pengintrogasian dan pembinaan yang sesekali guru olahraga saya menyinggung orang tua saya yang notabanenya sebagai guru agama….
Suatu hal yang dewasalah apabila kita berkomunikasi dengan mengeluarkan kata-kata dengan memperhatikan kondisi perasaan lawan bicara, tapi toh masih banyak orang yang sering menyakiti perasaan orang lain sekalipun orang itu berpendidikan, terhormat, memiliki kedudukan, orang tua, terpelajar dan lain-lain..ada beberapa kata yang membuat teman saya yang dalam seminggu tidak ingin berbicara dengan orang yang mengatakan kepadanya “itu sih DL!! (derita loe)” kata-kata itu bagaikan suatu bencana alam yang menguburkan karakternya, merasakan malaikat maut yang sedang menghampirinya, perasaan cinta yang dalam sedetik berubah menjadi kebencian yang hakiki, dan yang paling tragis lagi membuat dirinya mengalami hypertensi tingkat tinggi (sory kawan agak sedikit melebai,hehehhe)..selain itu ada juga perkataan kalimat yang apabila orang mendengarnya langsung mengetahui bagaimana kepribadian seseorang, kalimatnya gini: “kalian datang hanya mau mengatakan itu? atau ada maksud lain?” perkataan yang berbentuk kalimat tersebut memberikan makna yang berdampak pada suatu hal yang negarif contohnya kata “hanya” memberikan makna sesuatu yang hanya sepele atau tidak penting padahal orang yang datang padanya itu memberikan informasi yang sangat penting baginya yaitu teman sekampusnya mengalami kecelakaan dan meninggal, kemudian “maksud lain” mengartikan orang yang datang memberikan info kepadanya “memaksa” untuk memiliki tujuan lain padahal gak ada maksdud apa-apa…(kalau menjalin hubungan silaturahmi harus memiliki maksud?hehe). saya juga pernah mengatakan tanpa berfikir seribu kali pada temannya “ih jangan GR” yang membuat hatiku sangat kacau,.mengapa hatiku sangat kacau?? karena meletusnya balon hijau..(klo yang ini gak mau diceritain ah..hehe),,ada juga ucapan “mati kasana!!”,,“dasar gak ada gunanya” ,, ”nafsu? Talang bom!!”,,dan masih banyak lagi perkataan atau ucapan yang membuat perasaan menjadi negative apalagi jika ucapan itu keluar dari mulut orang yang kita cintai baik orang tua, teman, saudara, calon pacar dan kekasih,,,sungguh sangat menyakitkan.saya teringat oleh suatu pepatah yang mengatakan “ada dua hal yang tak akan pernah kembali: waktu yang telah berlalu dan ucapan yang telah di lontarkan” tak kalah pentingnya juga jargon dari suatu iklan “mulutmu harimaumu” ada juga potongan lirik lagu “lidah tidak bertulang” dan ada juga pepatah yang sangat tidak jelas “Wahormu membunuhku”…
Tulisan ini hanya mengingatkan kembali bahwa belajar berkomunikasi dengan baik merupakan salah satu penunjang keberhasilan kita, mengeluarkan perkataan harus dilandasi dengan sikap empati terhadap lawan bicara, dengan begitu akan menuaikan kedamaian hati….kesalahan yang kita buat terhadap orang lain dengan cara mengeluarkan perkataan yang tidak semestinya, bisa kita tebus dengan jalan melakukan komunikasi dengan baik, dengan cara yang santun, elegan, dan ramah yang menjauhi kita dari kebencian hati dan mencegah kawan menjadi lawan… jadi ingat!! PerkataanMu cerminan kepribadianMu..