
Ujian Kompherensif merupakan ujian untuk mengakhiri studi di suatu fakultas bisa dikatakan ujian akhir untuk mendapatkan gelar sarjana…Ujian kompre sangat dinanti oleh para mahasiswa tapi juga merupakan ujian yang paling ditakutkan, bagaimana tidak, peserta ujian diposisikan dalam suatu ruangan yang tertutup, duduk di tengah ruangan dan para dosen (penguji) seakan melingkarinya kemudian akan mengkuliti otak para peserta ujian dengan berbagai macam pertanyaan dalam berbagai bidang hukum…”dusta, kalau para peserta ujian mengatakan tidak gugup…” kalau soal gugup sih itu manusiawi tapi soal ongkos ujiannya itu yang biadab! Antara illegal dan legal…kalau yang berduit sih “no problem” tapi kami…kami yang hidup di keluarga yang paspasan, kami yang status ekonominya jongkok…”huh pake istilah antar undangan segala leh” (amplop), saya pernah mengkonfirmasikan soal ini kepada salah satu dosen yang memiliki jabatan di fakultas, katanya “antar undangan itu sifatnya resmi” hmm resmi? Resmi kok harganya gak di tentukan alias terserah mau kasih berapa? Resmi kok dilakukan secara terselubung? Kenapa gak di bayar saja ke bank seperti halnya membayar SPP? Anak SD saja sudah tau kalau indikasinya kearah pungli…tapi sayang saya hanyalah mahasiswa biasa dan tidak punya bukti nyata untuk melebel terjadinya pungli…”pasrah aja deh” dengan terpaksa harus mengikuti cara mainnya…saya tidak tahu papa saya dapat uangnya dari mana “hanya ini yang papa mampu” sambil menyerahkan uangnya,,, saya tidak berani menatap raut wajahnya saat ku ambil uangnya,karena saya tidak ingin melihat air mata mengalir di wajahnya …
Dengan uang seadanya saya mengantarkan undangan kepada seluruh penguji, dan pagi itupun tiba…
Saya masing ingat jelas situasi pada pagi hari itu, situasinya sangat mencekam, menakutkan, ngeri (lebai) untuk menghilangkan nerves saya mengalihkan perhatian pada teman-teman (perserta ujian lainnya) yang sedang berfoto ria, dengan stelan kemeja putih, jas hitam dan vantofel mengkilap dengan gagahnya mereka berpose,,sebenarnya sih saya mau ikut berfoto tapi jas dan celana panjang saya kedodoran maklum hasil pinjaman,(theks neh allen punu hehe)…
Setelah beberapa temanku akhirnya tibalah giliranku untuk memasuki ruangan ujian, bagaikan seorang terdakwa yang harus menjawab pertanyaan dari hakim itulah situasinya…pertanyaan penguji pertama dan kedua saya jawab dengan mantap, tapi penguji ketiaga…sial!!! “pada waktu membawa undangan penguji tersebut telah memberiku kisi-kisi mengenai HI tapi kenapa yang ditanya mengenai hukum waris?” akhirnya dengan cara spekolasi saya menjawabnya…kemudian penguji berikutnya adalah penguji yang paling ditakutkan dialah sang pimpinan fakultas alias Dekan, dia menyerangku dengan enam pertanyaan empat diantaranya saya bisa menjawab tapi kurang memuaskan menurut si penguji dan dua pertanyaan berikut saya tidak mampu untuk menjawab dan hanya bisa terpaku membisu...pertanyaannya saya masih ingat sampai sekarang “bagaimana kloning itu ditinjau dari moral dan etika?” sungguh pertanyaan diluar jangkauanku…।saya ingin menanyakan kembali mengenai pertanyaan itu “apakah kloning untuk hewan? Atau manusia?” setahuku hanya hewan yang pernah diuji coba Kloning, tapi saya kehabisan nyali untuk mengatakannya…karna hanya bisa “ternganga” dan jawabanku kurang memuaskan, si Dekan mengatakan “Saudara keluar, ambil buku dan belajar kembali” hah belajar kembali?! Sungguh mengagetkan, dengan spontan dan setengah sadar saya mengatakan “Bu satu pertanyaan lagi?” karna ingin menunjukkan bahwa saya benar-benar telah belajar dan sekaligus ingin mengkritik kepada si penguji karna pertanyaannya sangat banyak (standartnya 3 pertanyaan) dan dengan superior yang Dekan miliki, dia mengatakan “Kamu mau coba mengatur saya?” dengan tergopoh-gopoh sayapun keluar dari ruangan…saya langsung terbayang wajah kedua orang tuaku, takut akan mengecewakan mereka…seakan ruangan itu telah mengikis keceriaanku yang membuatku tak berkutik…
Setelah itu seluruh peserta ujian masuk dalam ruangan untuk mendengar hasil keputusan kelulusan (yudisium) teman-temanku dinyatakan lulus dengan membanggakan tentunya dengan kata “selamat” dari sang Dekan…tapi giliran sang Dekan membacakan keputusan kelulusan terhadap saya, dia mengatakan “Sangat disayangkan,,,saudara Arrahyan Kadir dinyatakan…hampir tidak lulus” tertunduk dan terpaku haya itu yang bisa saya lakukan dengan berpikir pendek saya memvonis diriku sebagai seorang mahasiswa yang paling bodoh diantara teman-teman seangkatanku…kata “hampir” itu membuatku malu pada teman-temanku…tapi saya tetap bersyukur pasalnya pada detik itu saya telah memiliki gelar SH di belakang nama saya walaupun dengan predikat “hampir tidak lulus”,,,dan dengan kejadian itu membuat saya terus belajar sampai sekarang ini…
Setelah dianalisa dan dikaji secara mendalam ada bebrapa faktor yang saya temukan mengapa saya hampir tidak lulus,yakni:
Buat teman seangkatanku apabila kalian menjadi Dosen, Pengacara, Jaksa, Hakim, Polisi,,jalanilah profesi kalian dengan dilandaskan pada iman dan moral karna zaman sekarang uang adalah salah satu alat penggoda yang mujarab…”pantas gak yah,tukang ojek memberikan nesehat hehe”
“duh bingung mau akhiri tulisan dengan kalimat apa,,,yah maklum penulis pemula” tapi OKlah saya akhiri tulisan ini dengan suatu Adigium yang sudah tidak asing lagi,,,”nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali”
Dengan uang seadanya saya mengantarkan undangan kepada seluruh penguji, dan pagi itupun tiba…
Saya masing ingat jelas situasi pada pagi hari itu, situasinya sangat mencekam, menakutkan, ngeri (lebai) untuk menghilangkan nerves saya mengalihkan perhatian pada teman-teman (perserta ujian lainnya) yang sedang berfoto ria, dengan stelan kemeja putih, jas hitam dan vantofel mengkilap dengan gagahnya mereka berpose,,sebenarnya sih saya mau ikut berfoto tapi jas dan celana panjang saya kedodoran maklum hasil pinjaman,(theks neh allen punu hehe)…
Setelah beberapa temanku akhirnya tibalah giliranku untuk memasuki ruangan ujian, bagaikan seorang terdakwa yang harus menjawab pertanyaan dari hakim itulah situasinya…pertanyaan penguji pertama dan kedua saya jawab dengan mantap, tapi penguji ketiaga…sial!!! “pada waktu membawa undangan penguji tersebut telah memberiku kisi-kisi mengenai HI tapi kenapa yang ditanya mengenai hukum waris?” akhirnya dengan cara spekolasi saya menjawabnya…kemudian penguji berikutnya adalah penguji yang paling ditakutkan dialah sang pimpinan fakultas alias Dekan, dia menyerangku dengan enam pertanyaan empat diantaranya saya bisa menjawab tapi kurang memuaskan menurut si penguji dan dua pertanyaan berikut saya tidak mampu untuk menjawab dan hanya bisa terpaku membisu...pertanyaannya saya masih ingat sampai sekarang “bagaimana kloning itu ditinjau dari moral dan etika?” sungguh pertanyaan diluar jangkauanku…।saya ingin menanyakan kembali mengenai pertanyaan itu “apakah kloning untuk hewan? Atau manusia?” setahuku hanya hewan yang pernah diuji coba Kloning, tapi saya kehabisan nyali untuk mengatakannya…karna hanya bisa “ternganga” dan jawabanku kurang memuaskan, si Dekan mengatakan “Saudara keluar, ambil buku dan belajar kembali” hah belajar kembali?! Sungguh mengagetkan, dengan spontan dan setengah sadar saya mengatakan “Bu satu pertanyaan lagi?” karna ingin menunjukkan bahwa saya benar-benar telah belajar dan sekaligus ingin mengkritik kepada si penguji karna pertanyaannya sangat banyak (standartnya 3 pertanyaan) dan dengan superior yang Dekan miliki, dia mengatakan “Kamu mau coba mengatur saya?” dengan tergopoh-gopoh sayapun keluar dari ruangan…saya langsung terbayang wajah kedua orang tuaku, takut akan mengecewakan mereka…seakan ruangan itu telah mengikis keceriaanku yang membuatku tak berkutik…
Setelah itu seluruh peserta ujian masuk dalam ruangan untuk mendengar hasil keputusan kelulusan (yudisium) teman-temanku dinyatakan lulus dengan membanggakan tentunya dengan kata “selamat” dari sang Dekan…tapi giliran sang Dekan membacakan keputusan kelulusan terhadap saya, dia mengatakan “Sangat disayangkan,,,saudara Arrahyan Kadir dinyatakan…hampir tidak lulus” tertunduk dan terpaku haya itu yang bisa saya lakukan dengan berpikir pendek saya memvonis diriku sebagai seorang mahasiswa yang paling bodoh diantara teman-teman seangkatanku…kata “hampir” itu membuatku malu pada teman-temanku…tapi saya tetap bersyukur pasalnya pada detik itu saya telah memiliki gelar SH di belakang nama saya walaupun dengan predikat “hampir tidak lulus”,,,dan dengan kejadian itu membuat saya terus belajar sampai sekarang ini…
Setelah dianalisa dan dikaji secara mendalam ada bebrapa faktor yang saya temukan mengapa saya hampir tidak lulus,yakni:
- Saya menderita phobia dunia pendidikan…takut akan suasana yang bersifat formal/resmi, ini bermula pada saat saya masih sekolah, saya takut sekali terhadap guru-guru yang killer, pernah kejadian saya dipukuli oleh guru SMP, padahal saya tidak melakukan kesalahan (aneh) dan itu berefek pada mental saya…pada ujian kompre itulah mental penakut dan gugup saya gunakan…jangankan pengertian hukum nama sendiripun akan lupa apabila dalam keadaan gugup, hehe itu dulu “klo skarang, coba jo tes?”
- Pengaruh “ombong” alias amplop…rumusnya sederhana kok: “tebalnya isi amplop=mudah dan sedikitnya pertanyaan” sebaliknya “tipisnya isi amplop=sukar dan banyaknya pertanyaan”
- Otak kiri saya terbatas…dalam ujian kompre yang diuji adalah seluruh bidang hukum (perdata, pidana, HTN dan HI) dan juga seluruh Mata Kuliah dari semester 1 sampai semester 8, secara rasional dalam kurun waktu 3 setengah tahun mahasisiwa tidak mampu menguasai seluruh mata kuliah…kalau ada yang mampu menguasainya,boleh hadapkan pada saya hehe,,,
Buat teman seangkatanku apabila kalian menjadi Dosen, Pengacara, Jaksa, Hakim, Polisi,,jalanilah profesi kalian dengan dilandaskan pada iman dan moral karna zaman sekarang uang adalah salah satu alat penggoda yang mujarab…”pantas gak yah,tukang ojek memberikan nesehat hehe”
“duh bingung mau akhiri tulisan dengan kalimat apa,,,yah maklum penulis pemula” tapi OKlah saya akhiri tulisan ini dengan suatu Adigium yang sudah tidak asing lagi,,,”nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali”
